antropologi hostel

psikologi berbagi ruang dengan orang asing dari belahan dunia lain

antropologi hostel
I

Bayangkan skenario ini sejenak. Kita terbangun jam tiga pagi karena suara ritsleting dan gemeresik kantong plastik yang menyebalkan. Di atas kita, kasur berderit pelan menyertai dengkuran seseorang dari negara yang letaknya sepuluh ribu kilometer jauhnya. Ruangan itu berbau campuran losion antinyamuk, mi instan, dan handuk lembap. Anehnya, alih-alih marah, kita justru memejamkan mata lagi sambil tersenyum tipis. Pernahkah kita berpikir, mengapa kita dengan sukarela—bahkan membayar—untuk tidur di satu ruangan bersama sekelompok orang asing yang tidak kita kenal sama sekali? Selamat datang di dunia antropologi hostel. Sebuah fenomena modern yang sebenarnya sangat, sangat tidak masuk akal jika kita melihatnya dari kacamata biologi.

II

Mari kita mundur sedikit ke masa lalu. Secara historis dan evolusioner, otak manusia diprogram untuk mewaspadai orang asing. Nenek moyang kita bertahan hidup di alam liar dengan prinsip yang sangat sederhana: tetap bersama kelompokmu, curigai mereka yang berasal dari luar. Bertemu dengan suku asing sering kali berarti ancaman. Dalam psikologi, ada mekanisme pertahanan kuno yang membuat kita merasa tidak nyaman berada di dekat orang yang berada di luar "lingkaran" kita. Ini adalah alarm alami tubuh untuk bertahan hidup. Namun, hari ini, jutaan orang mengepak ransel mereka dan dengan santai memesan kamar dormitory berisi dua belas tempat tidur bertingkat. Kita menaruh barang berharga kita di loker tipis, lalu tidur nyenyak bersebelahan dengan seseorang yang baru kita temui lima menit yang lalu di lobi. Logika evolusi kita seolah korslet. Bagaimana bisa insting bertahan hidup kita yang sudah berumur ratusan ribu tahun itu tiba-tiba mati hanya karena ada fasilitas WiFi gratis dan sarapan roti panggang? Pasti ada sesuatu yang jauh lebih kompleks sedang terjadi di dalam kepala kita.

III

Saat kita melangkah masuk ke kamar hostel, kita sebenarnya sedang memasuki sebuah eksperimen psikologi yang masif. Kita terikat pada aturan sosial tak tertulis yang sangat unik. Ada tarian kecanggungan saat kita saling mengangguk sopan dengan teman sekamar. Ada etika tidak kasat mata tentang siapa yang boleh menyalakan lampu utama. Di ruang sempit ini, privasi fisik hampir tidak ada, namun kita berhasil menciptakan privasi psikologis. Kita menggunakan earphone sebagai dinding pelindung. Kita menarik tirai kasur sebagai garis perbatasan negara imajiner kita. Tapi, di sinilah letak misteri utamanya. Pernahkah teman-teman mengalami malam di common room (ruang santai hostel), minum kopi atau teh hangat bersama seseorang dari belahan dunia lain? Tiba-tiba, tanpa kita sadari, kita menceritakan ketakutan terbesar kita, impian masa kecil kita, atau patah hati terburuk kita kepada orang asing ini. Hal-hal yang bahkan tidak pernah kita ceritakan kepada sahabat atau keluarga kita sendiri. Mengapa kita bisa sangat terbuka pada seseorang yang mungkin namanya saja akan kita lupakan besok pagi?

IV

Jawabannya terletak pada persilangan antara neurosains dan sosiologi. Para psikolog menyebut fenomena curhat ini sebagai stranger on a train effect. Saat kita berada jauh dari rumah, di lingkungan yang seba asing alias ruang liminal (liminal space), identitas sosial kita sehari-hari luruh. Di hostel, kita bukan lagi seorang akuntan, mahasiswa tingkat akhir, atau anak sulung yang dituntut sukses. Kita hanyalah sesama musafir. Tidak ada masa lalu yang menghakimi, dan tidak ada masa depan yang mengikat. Kebebasan identitas ini memicu pelepasan dopamin di otak kita. Interaksi sosial yang intens, baru, dan tanpa beban membuat otak merasa diberi hadiah. Lebih dalam lagi, hostel adalah bentuk nyata dari Contact Hypothesis, sebuah teori dari psikolog Gordon Allport. Teori ini menyatakan bahwa prasangka antarmanusia bisa dihapus jika mereka ditempatkan dalam situasi dengan status yang setara, memiliki tujuan yang sama, dan bekerja sama. Di hostel, kita semua memiliki status yang sama: manusia lelah yang mencari tempat istirahat murah. Tujuan kita sama: bertahan hidup dan menikmati perjalanan. Ruang berbagi ini menjadi semacam api unggun modern. Ia mengelabui otak purba kita untuk percaya bahwa orang-orang dari berbagai negara berbeda di ruangan ini adalah "satu suku" yang baru.

V

Pada akhirnya, berbagi ruang dengan orang asing di hostel mengajarkan kita sesuatu yang sangat esensial tentang kemanusiaan. Kita menyadari bahwa di balik bahasa, warna kulit, dan paspor yang berbeda, kita memiliki kerentanan yang sama. Kita sama-sama kesal jika air panas tiba-tiba mati. Kita sama-sama panik saat kehilangan kunci loker. Toleransi tidak selalu dipelajari dari buku tebal atau seminar perdamaian dunia. Kadang, toleransi tumbuh dari momen-momen kecil yang banal, seperti saat kita meminjamkan adaptor charger kepada teman sekamar asal Peru pada pukul dua dini hari. Hostel adalah laboratorium antropologi yang berantakan, berisik, namun sangat indah. Ia membuktikan bahwa meskipun sejarah mengajarkan kita untuk takut pada orang asing, naluri terdalam manusia sebenarnya adalah mencari koneksi. Jadi, kelak jika kita kembali terbangun karena suara kresek di tengah malam, tersenyumlah. Ingatlah bahwa kita sedang menjadi bagian dari eksperimen sosial paling hangat di dunia.